Home » » Ragam Senjata Tradisional dari Berbagai Penjuru Nusantara

Ragam Senjata Tradisional dari Berbagai Penjuru Nusantara

Written By demi anak on Selasa, 28 Januari 2014 | 05.01


Referensi 0
Referensi 1
Referensi 2

Spoiler for "Mudah2an tidak repost":
Quote:Alamang
Spoiler for "Sebilah Pedang Pusaka Sonri atau Alamang dari himpunan Pusaka Anak Kerajaan Gowa":

Alamang adalah sebuah Pedang dari Indonesia. Di Sulawesi pedang ini disebut juga Sonri atau Salapu. Sonri atau Salapu adalah salah satu jenis senjata yang di sakralkan di daerah Bugis-Makassar. Bentuknya senjata ini merupakan gabungan 3 jenis senjata yaitu tappi, badik dan tombak. Filosofinya bahwa Salapu atau Alamang simbol kedaulatan,kemakmuran, dan kewibawaan suatu kerajaan. Konon dimasa lampau seorang Raja tidak akan meninggalkan kerajaannya kalau tidak membawa Salapu. Sebagai perangkat kebesaran kerajaan, tentulah salapu bersifat sangat eklusif, tidak sembarang orang boleh memilikinya bahkan para empu/panre disumpah untuk tidak membuat Salapu sekalipun duplikatnya.

Ada hukum yang berlaku dimana bangsawan apalagi rakyat biasa tidak boleh meniru senjata-senjata raja/kerajaan. Salah satu contoh dalam sejarah kerajaan Bone pernah seorang panre/empu dibunuh ketika selesai membuat sebuah senjata, hal ini untuk menjaga eklusifitas senjata tersebut. Alamang atau Salapu atau sonri memiliki pisau bermata dua yang lurus. Pedang ini biasanya terbuat dari baja biasa, tetapi juga dari baja pamor atau baja damaskus. Bagian pegangan terbuat dari kayu atau tanduk. Bagian sarung pedang ini terbuat dari kayu ataupun rotan. Panjang keseluran pedang ini beserta gagang biasanya 74cm dengan panjang sisi logam 58cm.
Quote:
Badik Lampung
Spoiler for "Badik Lampung":



Badik adalah senjata tradisional yang bisa dijumpai di sejumlah daerah di Indonesia. Selain Sulawesi Selatan (Sulsel), Lampung adalah daerah lain di tanah air yang memiliki warisan senjata tradisional badik. Terdapat kemiripan antara badik Sulawesi Selatan dan badik Lampung, seperti gagangnya yang bengkok, bilah yang asimetris dan meruncing, serta memiliki hiasan pamor atau bercak pada bilah (mata pisau) akibat percampuran bahan logam yang digunakannya. Sejauh ini, belum ada penelitian yang menelusuri muasal kemiripan badik di dua tempat tersebut. Namun demikian, banyak yang berasumsi bahwa pada zamannya, Kerjaan Goa dan Bone-lah (sekarang wilayah Sulsel) yang datang memperkenalkan badik pada masyarakat di lingkungan Kerajaan Tulang Bawang (sekarang wialyah Lampung).Berbeda dengan keris atau kujang, di kalangan masyarakat penggunanya, badik masih sarat dengan nilai-nilai ‘kejantanan’, di mana masih banyak di antara mereka yang selalu membawa badik dalam aktivitas sehari-hari.


Jenis-jenis Badik Lampung
Menurut ukurannya, Badik Lampung bisa digolongkan ke dalam dua, yakni badik kecil dan Siwokh. Badik kecil umumnya memiliki bilahyang berukuran tidak lebih dari 11 cm, dengan lebar sekitar 2 cm. Sedangkan Siwokh, panjang mata pisaunya lebih dari 19 cm, dan lebarnya lebih dari 2 cm. Berdasarkan karakteristik bilahnya, yakni berlubang atau tidak berlubang, badik badik kecil maupun Siwokh memiliki istilah tersendiri, yakni Badik/Siwokh Bebai (perempuan) untuk yang berlubang, dan Badik/Siwokh Ragah (laki-laki) untuk yang tidak berlubang.
Bagi para peminatnya, badik tua/lama diyakini memiliki kualitas yang lebih baik. Salah satu indikator untuk mengujinya, yakni dengan cara menyentil ujung badik, di mana badik tua akan terdengar lebih nyaring dibandingkan dengan badik produksi masa kini. Badik tua juga diyakini mengandung warangan (bisa), yang membuat luka akibat goresannya akan sulit disembuhkan. Tidak hanya pada manusia, konon pohon pun jika terkena goresan badik tua yang mengandung warangan akan mengering dan mati.

Pamor Badik Lampung
Seperti halnya keris, Badik juga umumnya dihiasi dengan pamor atau motif bercak pada bilah akibat percampuran logam dan teknik pembakaran serta penumbukan. Seorang pandai badik dituntut untuk menguasai teknik-teknik pembuatan hiasan pamor tersebut, karena pamor merupakan salah satu unsur penting dalam badik, yang memuat, baik nilai artistik maupun spiritual. Beberapa pola pamor dalam Badik Lampung yang sering disebut “bayang” adalah bayang capit, bayang sai, bayang pekhancang, pebayang khancang, khancang, laman tundun, khancang batu, khancang seribu, dan singa dawan.
Quote:Badik
Spoiler for "Badik":
Badik yang berasal dari Sulawesi Selatan terbilang yang paling dikenal luas. Badik Sulawesi Selatan, umumnya seperti pisau, dengan satu atau dua sisi tajam, dengan bentuk asimetris, dan sebagian di antaranya dihiasi dengan pamor. Hingga kini, Badik Sulawesi Selatan yang memiliki sejumlah ragam ini masih lestari di lingkungan masyarakat Sulawesi Selatan, terutama di kalangan warga Melayu Makasar, Bugis, dan Mandar. Di antara kelompok-kelompok sosial tersebut, dikenal beberapa jenis Badik, yakni Badik Raja, Badik Lagedong, Badik Lawu, dan Badik Lompo Battang.

Bagi orang Sulawesi Selatan, Badik adalah identitas. Badik sering dijadikan perlambang keberanian mereka. Maka tak heran, Badik menjadi salah satu item simbolik yang terdapat dalam Lambang Sulawesi Selatan, bersama dengan padi-kapas, Perahu Pinisi, dan lain-lain.

Fungsi dan Nilai-nilai dalam Badik
Bagi orang Sulawesi, setidaknya, ada tiga fungsi yang terkandung dalam Badik, yakni fungsi artistik, fungsi spiritual, dan fungsi keamanan. Fungsi artistik berhubungan dengan nilai seni yang terkandung pada Badik, di mana badik diperlakukan bukan hanya sekedar perkakas, melainkan selayaknya perhiasan. Untuk menunjang penampilannya, Badik-badik yang senantiasa dirawat dengan apik, oleh Sang Pemilik disematkan sedemikian rupa di tubuhnya, baik di pinggang sebelah kanan atau kiri, maupun dengan derajat kecondongan tertentu.


Fungsi spiritual, juga mengandung arti bahwa Si Pemilik memaknai Badiknya sebagai pusaka yang memiliki tuah, yang bisa mengirimkan energi tertentu kepadanya. Bahkan konon, dahulu adalah biasa bagi seorang ayah untuk memintakan seorang empu untuk membuatkan Badik untuk anaknya, agar pusaka itu bisa membangun karakter Si Anak dan berhasil meraih cita-citanya. Penyerahan Badik dari seorang ayah pada anaknya juga berarti sebuah pengakuan akan kedewasaan Si Anak, yang dianggap telah mampu mengemban tanggung jawab.


Fungsi keamanan tak lain adalah bahwa Badik merupakan sarana untuk membentengi Si Pemilik dari ancaman-ancaman yang bisa mencelakakannya. Dalam bahasa sederhana, Badik merupakan senjata untuk berjaga-jaga dan melindungi diri

Quote:Badik Tumbuk Lado
Spoiler for "Badik Tumbuk Lado":

Badik Tumbuk Lado merupakan senjata tradisional yang berasal dari Kepulauan Riau. Badik sendiri merupakan sebutan untuk senjata tradisional yang dikenal di kalangan masyarakat bugis dan beberapa daerah di Sumatera. Sedangkan, Tumbuk Lada atau Tumbuk Lado (Riau) adalah senjata tradisional masyarakat Melayu dan masyarakat Semenanjung Melayu. Tak heran jika badik tumbuk lado memiliki kemiripan dengan senjata dari daerah di semenanjung melayu lainnya bahkan dengan Negara tetangga malaysia. Kepulauan Riau ditinggali oleh berbagai ras dan etnic. Akan tetapi, mayoritas penduduknya yang juga penduduk asli adalah bangsa melayu. Oleh karena itu, kebudayaan dari daerah Riau ini banyak memiliki kesamaan dengan wilayah yang berpenduduk asli melayu lainnya.

Badik Tumbuk Lado adalah sejenis senjata tikam berukuran 27 sampai 29 cm dan lebar nya sekitar 3.5 sampai 4 cm. senjata ini tidak hanya dipakai oleh masyarakat Jambi, dan juga memiliki kesamaan dengan badik Bugis hanya berbeda dalam bentuk dan motif sarung badiknya saja. Tidak hanya di dalam negeri, Malaysya juga memiliki senjata tardisional yang sama, baik secara nama dan bentuk. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang masyarakat melayu yang tersebar di indonesi, malaysia, Filipina, vietanam dan sepanjang semenanjung Melayu. Sama halnya dengan keris, badik juga merupakan salah satu identitas yang mencirikan bangsa Melayu.

Tidak diketahui kapan pastinya awal mula Badik Tumbuk Lado digunakan sebagai senjata oleh orang Melayu. Akan tetapi, sejaka dulu orang Melayu terutama masyarakat Melayu kepulauan Riau menggunakan Badik Tumbuk Lado untuk berburu dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Selain itu, Badik Tumbuk Lado juga mempunyai fungsi estetis yakni badik biasanya digunakan sebagai pelengkap baju adat pria Melayu terutama saat pesta pernikaha. Bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap baju adat saja, badik tumbuk lado juga menyimbolkan keperkasaan dan kegagahan seorang pria. Sebetulnya, filosofi Badik Tumbuk Lado tidak jauh berbeda dengan keris jika keris seringkali disebutkan sebagai symbol pemersatu bangsa Melayu. Badik pun begitu, karena pada hakikatnya senjata dibuat sebagai alat yang memudahkan manusia juga sebagai lambang keberanian bukan sebagai symbol permusuhan.


Quote:Hujur
Asal Daerah: Sumatera Utara
Spoiler for "Hujur":
Senjata atau alat perang ini semacam tombak berupa gagang kayu dengan logam runcing/tajam diujungnya. Digunakan suku Batak untuk berperang ketika melawan musuh dan penjajah.

Quote:Karih
Spoiler for "Karih":

Karih (Keris) adalah Senjata tradisional Sumatera Barat. Bentuknya seperti keris tapi tidak berlekuk. Karih biasanya dipakai oleh kaum laki-laki dan diletakkan di sebelah depan pinggang, saat sekarang penggunaannya hanya dipakai bagi mempelai pria sebagai pelengkap pakaian adat pria.

Quote:Kujang
Spoiler for "Kujang":


Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda).

Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Bagian-Bagian Kujang
Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk.
Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain :
1. Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan)
2. Kujang Pakarang (untuk berperang)
3. Kujang Pangarak (sebagai alat upacara)
4. Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang)
Sedangkan berdasarkan bentuk bilah :
1. Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan)
2. Kujang Ciung (menyerupai burung ciung)
3. Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango)
4. Kujang Badak (menyerupai badak)
5. Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga)
6. Kujang Bangkong (menyerupai katak)
Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

Nambihan Saur Sepuh...
Menurut orang tua ada yang memberikan falsafah yang sangat luhur terhadap Kujang sebagai "Ku-Jang-ji rek neruskeun padamelan sepuh karuhun urang". Janji untuk meneruskan perjuangan sepuh karuhun urang/nenek moyang yaitu menegakan cara-ciri manusa dan cara ciri bangsa. Apa itu?

Cara-ciri Manusia ada 5 :
1. Welas Asih (Cinta Kasih)
2. Tatakrama (Etika Berprilaku)
3. Undak Usuk (Etika Berbahasa)
4. Budi Daya Budi Basa
5. Wiwaha Yuda Na Raga (Ngaji Badan)
Cara-ciri Bangsa ada 5 :
1. Rupa
2. Basa
3. Adat
4. Aksara
5. Kebudayaan
Sebetulnya masih banyak falsafah yang tersirat dari Kujang yang bukan sekedar senjata untuk menaklukan musuh pada saat perang ataupun hanya sekedar digunakan sebagai alat bantu lainnya. Kujang bisa juga dijadikan sebagai senjata dalam setiap pribadi manusia untuk memerangi prilaku-prilaku diluar kemanusaiaan. Memang sungguh gaib sakti(falsafah) Kujang.

Quote:
Mandau
Spoiler for "Mandau":



Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan.

Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani.

Struktur Mandau

1. Bilah Mandau
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.

Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh diatasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan. Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut. Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda.

2. Gagang (Hulu Mandau)
Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.

3. Sarung Mandau.
Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.

Nilai Budaya

Pembuatan mandau, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.
UPDATE DI #2 DAN #20

Sumber :http://www.kaskus.co.id/thread/52d72b57a4cb17a54f8b4593

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2014. Kaskus Hot Threads - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger